Minggu, 18 Maret 2012

Menganti, Surga di Ceruk Bukit Kapur


Alkisah, seorang panglima perang Kerajaan Majapahit melarikan diri ke pesisir selatan Jawadwipa karena hubungannya dengan pujaan hati tidak direstui sang raja. Mereka berjanji bertemu di tepi samudra pesisir putih nan indah. Sepanjang hari, sang panglima pun terus menanti pujaan hati yang ternyata tak kunjung tiba di atas bukit kapur sambil memandang laut lepas. Ia menanti dan terus menanti.
Oleh : GREGORIUS MAGNUS FINESSO


Pantai Menganti, Ayah, Kebumen, Jateng
1. Saat ini belum tersedia hotel atau wisma di sekitar Pantai Menganti, tetapi beberapa warga Desa Karangduwur sudah membuka diri bagi pengunjung yang menghendaki menginap di rumah warga dengan sistem “homestay” atau wisma dengan tarif Rp 150.000-Rp 375.000.

2. Panorama unggulan wisata Pantai Menganti yakni :
a. Pasir putih dengan bongkahan terumbu karang yang indah.
b. Mercusuar di sisi timur pantai yang dapat dinaiki hingga puncak,
c. Pantai yang sekaligus merupakan tempat pendaratan perahu nelayan memungkinkan Anda melebur dalam keseharian mereka.
d. Jika ombak sedang tenang, Anda juga bisa berselancar di pantai yang berada di ceruk perbukitan kapur ini.



Sekelumit mitos tadi diceritakan Sujirah (40), pedagang warung di tepi bukit kapur Pantai Menganti, untuk menggambarkan asal nama pantai tersembunyi di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah tersebut. “ Itu cerita yang saya dengar saat kecil dari para sesepuh di kampong. Jadi mungkin karena panglima tadi menanti di pantai ini, lalu dinamakanlah Pantai Menganti,” katanya pada Februari lalu.

Terlepas dari kebenaran legenda itu, kisah kestiaan panglima perang ini selalu diceritakan Sujirah kepada pengunjung warungnya—seolah menyempurnakan suasana romantic selepas menapaki hamparan pasir putih yang dikepung gugusan bukit karst. Di sana, keelokan pantai selatan tersaji alami tanpa sentuhan peradaban modern.

Tidak berlebihan rasanya jika sejumlah pengunjung yang ditemui menyebut Pantai Menganti sebagai “surga tersembunyi dibalik gunung kapur”. Betapa tidak, untuk menjangkau pantai ini, Anda harus menempuh medan cukup terjal dengan melintasi turunan dan tanjakan bukit kapur.

“Tapi, puas rasanya kalau sudah sampai. Perjalanan yang berat terbayar. Enggak rugi jalan jauh karena bisa dapat sensasi pantai yang masih alami seperti ini, apalagi sudah sulit menemukan pantai dengan pasir putih di Jateng,” tutur Thomas Gendon (20), mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang menempuh perjalanan sekitar 110 kilometer dari Kota Gudeg bersama tiga rekannya hanya karena penasaran dengan keindahan Pantai Menganti.

Kebumen yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di bagian selatan memang menjadi salah satu surganya obyek wisata pantai. Beberapa obyek yang sudah terkenal, seperti Pantai Logending, Karangbolong, Petanahan, dan Suwuk. Namun, tidak seperti pantai lain yang pasirnya hitam, Pantai Menganti masih memiliki hamparan pasir putih yang memikat.

Rute Menantang
Dari pusat Kabupaten Kebumen, pantai yang tereletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, ini dapat di tempuh dari dua jalur. Anda bisa melalui rute Kebumen-Petahanan-Puring-Suwuk-Menganti, dengan jarak sekitar 38 kilometer. Namun, medan yang dilalui cukup terjal dan melewati bukit curam. Rute yang lebih bersahabat dari pusat Kecamatan Gombong memlalui Pantai Logending ke arah selatan. Jalur ini jaraknya sekitar 45 kilometer dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam. Anda lebih disarankan melalui rute ini. Meski lebih jauh, kondisi jalan tidak seekstrem rute pertama dan pemandangannyapun jauh lebih indah.

Untuk sementara, kendaraan umum dari Gombong berhenti di Pantai Logending. Dari sini, Anda bisa menyewa ojek dengan ongkos sekitar Rp 20.000. Jika pergi dengan rombongan, kendaraan umum seperti mini bus yang biasa parkir di Pantai Logending bisa disewa dengan harga paling mahal Rp 100.000 untuk rute pergi-pulang.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, jangan lupa cek dulu kesiapan mesin, rem, dan ban kendaraan Anda. Jalan sempit yang berkelok-kelok dan curam sangat menuntut kendaraan dalam kondisi prima. Sekitar lima kilometer dari Pantai Ayah, sebelum sampai di lokasi wisata Pantai Menganti, di sisi kanan jalan tersaji elok nya panorama gugusan pantai selatan Kebumen dari puncak bukit. Anda bisa istirahat sejenak untuk mengabadikannya.

Di dekat pantai ada gerbang. Kendaraan yang masuk di pungut biaya Rp 2.000 per unit. Pantai ini dibatasi perbukitan batu gamping dan batuan (klastika) gunung api. Hamparan pasir berwarna putih hasil abrasi batu gamping dan keindahan pohon kelapa di pinggir pantai menciptakan nuansa dan pesona nan indah.

Kampung Nelayan
Di pantai ini, Anda juga bisa melebur dengan keseharian para nelayan setempat yang bersahaja. Mereka duduk di perahu di sekitar pantai setelah semalaman melaut. Pengalaman membeli ikan segar langsung di tempat pelelangan ikan pun dapat dilakukan di sini. Pemandangan lebih eksotis jika Anda menaiki bukit di sisi timur pantai. Di puncak bukit terdapat mercusuar yang didirikan kolonial Belanda tahun 1912-1915 setinggi 20 meter yang bisa dinaiki hingga puncaknya. Dari lokasi ini, Anda bisa melihat seluruh kawasan pantai, lekuk-lekuk bukit karang membentang, hingga birunya samudra.

Pantai Menganti di buka untuk umum oleh pemerintah desa setempat pada awal 2011. Sebelumnya, lokasi ini hanya menjadi tempat pendaratan perahu nelayan. Karena itu, obyek wisata ini belum di kelola Pemerintah Kabupaten Kebumen. Kepala Desa Karangduwur, Barir, menuturkan, selain pantai yang eksotis, terdapat terumbu karang, air terjun, dan goa di bibir pantai yang konon petilasan Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo. Goa ini rutin dikunjungi peziarah pada hari-hari tertentu.

Pemerintah desa berencana menambah daya tarik pantai dengan menjadwalkan pentas seni budaya setempat, seperti kuda lumping, wayang calung, ketorak, rebana, dan sholawatan Jawa. “Pantai Menganti sangat nyaman dan jauh dari pemukiman. Kami punya keinginan wilayah ini bisa jadi desa wisata dengan membuka sejumlah homestay,” ujar Basir. Pantai ini juga pernah dijadikan ajang lomba selancar nasional pada 2011. Ombaknya yang tidak seganas pantai pesisir selatan lain, disebabkan lokasi pantai yang dikelilingi gunung karang dan kapur.

Namun, karena belum dipersiapkan menjadi obyek wisata komersial, kondisi infrastruktur belum memadai menuju pantai ini. “Tanah di sekitar Pantai Menganti wewenang Perhutani. Satu-satunya solusi yakni menggandeng investor. Jika infrastruktur di dalam kawasan wisata sudah mantap, kami siap meningkatkan infrastruktur jalannya,” ungkap Kepala Disparbud Kebumen Heri setianto. Menganti, boleh jadi bernasib sama seperti kisah panglima perang dari Majapahit yang terus menanti sang pujaan hati. Kini, surga kecil itu pun menanti kesungguhan niat pemangku kebijakan setempat menggarap potensi alam luar biasa itu menjadi obyek wisata yang layak di tawarkan kepada wisatawan domestic, bahkan mancanegara.

sumber : Kompas, Selasa, 13 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar